
Oleh : Lailatus Sholichah
Ramadhan datang lagi, Ayah
Tahun ini, tahun depan bahkan tahun tahun setelahnya tak akan lagi sama
tanpa suaramu yang membangunkan ragaku
tanpa tawamu saat saur tergesa
tanpa tanganmu yang membagikan kurma
Meja makan kini terasa lebih lapang
Tak ada Kau yang selalu duduk paling ujung
Tersenyum Lelah setelah seharian bekerja
Tak ada lagi yang menjadi pemisah
Saat kami berebut pisang aromah
Sunyi menyapa disetiap waktu berbuka
Kami duduk tak lagi berkisah
Ayah,
Ramadhan sunyi tanpa hadirmu
Ingin ku mengulang bersamamu
Aku selalu memanggilmu dalam doa
Disetiap rokaat sujudku
Disetiap lembar bacaan kitabku
Semoga Ramadhanmu di sana lebih Indah
Oleh : Hany EL – Rahman
Di selembar kertas sunyi,
pena kugenggam bukan dengan tangan,
melainkan dengan jiwa yang remuk
dan jemari yang gemetar oleh kenangan.
Setiap goresannya adalah desir nafas
yang pernah kutahan demi tak jatuh
tapi tetap saja runtuh.
Aksara demi aksara,
bukan sekadar barisan kata,
mereka adalah tangis yang memilih diam,
ratap yang disembunyikan dalam ejaan.
Ada huruf yang menjerit,
tapi tak bersuara.
Ada kalimat yang berteriak,
tapi tak terdengar.
Aku menulis bukan untuk didengar,
bukan pula untuk dipahami,
melainkan karena aku takut lupa
bahwa aku pernah merasa,
pernah mencinta,
pernah percaya pada yang akhirnya pergi
tanpa sisa.
#RIP ALISA ZAMHARIRA
Jombang, 1.9.2025
Oleh: Dewi Adila Badriana
Langit menangis lembut sore ini,
Butir hujan jatuh ritmis, bernyanyi,
Di bawahnya, langkah-langkah kecil berlari,
Anak-anak menuju masjid, membawa cahaya pagi.
Suara beduk bertalu dari kejauhan,
Mengiringi semesta dalam harmoni Ramadhan,
Aku tersenyum, menyaksikan keriangan itu,
Hingga hati ini perlahan terasa pilu.
Tiba-tiba, memori masa kecil berputar,
Seperti film lama yang tak pernah pudar,
Aku melihat diriku, dalam langkah-langkah kecil itu,
Berjalan bersama ayah dan ibu.
Mereka menggenggam tanganku dengan kasih,
Mengajakku menuju masjid dalam kebeningan hati,
Suara tawa kami berpadu dengan gemuruh hujan,
Dan doa-doa kami membumbung ke langit malam.
Kini aku berdiri sendiri di tepi jalan,
Menyeka air mata yang jatuh perlahan,
Ayah, Ibu, kalian sudah pergi meninggalkan dunia,
Namun cinta kalian abadi, menjadi lentera jiwa.
Hujan terus bernyanyi dalam irama tak bertepi,
Mengiringi kenangan yang menari-nari,
Langkah-langkah kecil anak-anak itu,
Seolah membawa pesan cinta yang tak pernah jemu.
Ya Allah, di bulan yang penuh berkah ini,
Aku titipkan rinduku pada mereka yang telah kembali,
Sampaikan salamku pada ayah dan ibu,
Dan jagalah mereka dalam rahmat-Mu yang tak berbatas waktu.
Di bawah hujan Ramadhan yang lembut ini,
Aku belajar, bahwa setiap kenangan adalah anugerah ilahi,
Langkah kecil menuju masjid adalah perjalanan suci,
Dan air mata ini adalah tanda cinta yang abadi
Jombang, 4 Mei 2025