
Dulu kau melangkah di lorong sunyi,
Dengan map lusuh dan senyum basi,
Mengendap-endap layaknya bayang- bayang,
Menjilat angin, menjilat cahya terang.
Setiap rayuan manis kau rawat,
Sampai ludah pun tampak keramat,
Asal namamu tetap tercantum di absen,
harga diri tergadai pun persetan.
Kini jasmu tersetrika rapi,
Nada bicaramu-pun mulai menjulang tinggi mendekati langit.
Lupa kau pada setiap peluh dan pilu,
Yang dulu kau kunyah demi sesuap restu.
Perintah sederhana kau anggap hina,
Karena kursi empuk telah jadi singgasana,
Padahal dulu...
Menunduk pun kau lakukan tanpa diminta.
Apakah pangkat membuatmu tuli?
Atau sekadar menebalkan mimpi,
Bahwa kekuasaan kecilmu itu abadi?
ironis sekali, sebab angin saja tak sudi diam di
satu sisi.
Ingatlah, wahai sang pejabat instan,
Mapan bukan berarti kau jadi tuan,
Karena waktu pandai menagih hutang,
Dan karma tak butuh undangan untuk datang.
Jombang, 8.8.25
Menggelayut manja lindap kelam di ufuk cakrawala senja,
desah resah sang musafirpun mulai terasa,
rasa ingin gegas melangkah demi menghindar dari rintik hujan,
tapi apalah daya kaki masih terbelenggu darma untuk negeri.
Sejurus kemudian elegi sang musafirpun mengumandang
menguar di sudut-sudut ruang munajatnya
"HASBUNALLAH WANI'MALWAKIL
NIKMALMAULA WANIKMANNASIR,
cukup Allah saja yang menjadi penolongku"
Jombang 11.10.2024