
Oleh: Ummi Syahidah
Nyanyian surau yang kini tak lagi memekik telinga
Ada rasa lega tapi ini tidak biasa
Apakah aku sudah kehabisan waktu
Sehingga tak lagi merasa tergangu
Terbesit pertanyaan
Apakah pendosa sepertiku pantas bersujud
Tak terhitung berapa masa aku habiskan untuk berpaling
melirik surau saja rasanya diri ini terlalu hina
banyak yang bicara jika ini bulan istimewa
bulan yang penuh pengampunan
apakah itu benar
Apakah aku juga masuk hitungan
Kerinduan akan bersimpuh menadahkan tangan
Namun ragu akan pengampunan
Aku terlahir dari kegelapan
Berharap mati dalam cahaya
Cahaya rembulan menunjukkan hilalnya
Tanda masa pembakaran akan dimulai
Tangan ini menadah memohon kepada-NYA
Jangan biarkan diri ini kembali lalai
Welas Asih-MU ribuan kali lebih luas dari jagat raya
Boleh kah pendosa sepertiku merasakan cahaya
Mohon kesempatan untuk masa penebusan
Untuk kembali hidup dalam cahaya pengampunan.
Oleh : Ame
Buk,
Ramadhan taun ini sangat berbeda
Ramadhan tahun ini ibu tidak lagi menyajikan makanan untukku
Tidak ada suara yang membangunkanku untuk sahur
Tidak bisakah bu, kau hadir dimimpiku untuk membangunkanku sahur?
Bu ketahuilah ayah diam-diam masih menangis di kamar
Setelah kepergianmu suasana rumah berbeda
Ketika makan hanya ada suara detingan sendok
dan piring saja tidak ada lagi percakapan random seperti
dulu.
Bu, meskipun ragamu tak lagi bersamaku semoga disetipa niat baikku
engkau selalu ada.
Aku rindu suasana ramadhan saat bersamamu bu.