MTs Negeri 2 Jombang

  • Beranda
  • Informasi
  • Berita
  • Bantuan
  • Pustakawan
  • Area Anggota
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}

Esai: Menulis; Meneladani Imam Al-Ghazali


                                             

Menulis; Meneladani Imam 

Al-Ghazali

 

  :Satu hari satu karya

 

Oleh: Miftachur Rozak*

 

Imam Al- Ghazali, “Kalau kamu bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka menulislah.”

Kata-kata mutiara yang diwariskan oleh Imam Besar tersebut, telah mengilhami saya; karena saya hanyalah anak buruh tani yang mungkin tidak akan dikenal, jika saya tidak menulis. Mungkin juga hidup saya tidak ada manfaatnya jika tanpa menulis, karena tulisan itu abadi, lebih abadi dari umur kita yang setiap menitnya berkurang sampai ajal menjemput kita. Nah, sekarang apakah kalian juga terilhami setelah membaca kalimat yang diwariskan oleh seorang filsuf dan teolog muslim Persia tersebut. Tentu anda yang lebih tahu jawabannya.

Dalam proses menulis, saya sependapat dengan Taum 2014, “Sastra adalah karya cipta atau fiksi yang bersifat imajinatif” atau “ Sastra adalah penggunaan bahasa yang indah dan berguna yang menandakan hal-hal lain”. Jadi, saya dapat menyimpulkan, ketika kita menulis harus bisa menangkap kata-kata yang datang, bahkan bisa mengada-ada kata yang belum datang. Entah itu berupa puisi, cerpen, ataupun hanya cerita yang paling singkat (flash fiction). Namun, sengarang-ngarangnya saya dalam menulis; saya tetap menyisipkan persoalan yang benar-benar terjadi adanya (fakta), sebagai ruh dalam sebuah karya. Karena sangat mustahil, jika tidak ada peristiwa yang menarik di lingkungan kita untuk kita jadikan sebuah karya tulis. Misalnya: Mimpi kita semalam, pertengkaran yang terjadi pada tetangga kita, hutang-piutang yang belum lunas, putus cintanya teman kita, galaknya guru kita, bahkan kejadian-kejadian lucu yang mungkin saja kita temukan secara tidak sengaja, itu semua adalah realita yang menjelma harta untuk kita tulis. Intinya, dalam realita-sastra kita hanya disarankan untuk memilih: menulis atau ditulis. Saya tekankan lagi: Kita yang menulis, atau kita yang ditulis?.

Perihal satu hari satu karya, yang saya utarakan di paragraf sebelumnya; hal tersebut saya lakoni seperti ini: pertama, saya mengumpulkan remah-remah kata yang berseliweran di angan-angan, entah saya tulis di buku kecil, ataupun saya tulis langsung ke smart phone-ku. Hal tersebut saya lalukan karena saya punya penyakit lupa, atau dalam bahasa jawa disebut pikun. Jadi, jika remah-remah kata tersebut tidak segera saya tangkap, mungkin akan segera lenyap dan mubadzir; atau mungkin kata-kata tersebut menjelma sekawanan kunang-kunang yang menghantui tidur saya; atau bahkan bisa membuat saya insomnia stadium kesekian.

Kedua, jika pretelan-pretelan kata sudah terkumpul di lumbung saya; maka saya segera meraciknya menjadi sebuah karya’ entah itu sejudul puisi ataupun beberapa konflik cerpen. Seandainya memungkin saya jadikan cerpen, maka yang perlu saya lakukan adalah penambahan tokoh berserta konfliknya, dan tentunya dibumbui dengan seonggok permasalahan yang sedang heboh atau viral di lingkungan kita. Ya, karena tugas penulis adalah: selain menghibur, kita juga harus menyisipkan nilai-nilai positif untuk dikonsumsi oleh pembaca. Dan, seandainya memungkinkan dijadikan sebuah puisi yang elok serta tersirat bertubi-tubi makna, kita tingggal mengolahnya sesuai dengan selera kita, entah menggunakan persajakan ataupun metafora. Namun ingat, puisi itu lebih rumit ketimbang cerpen (itu menurut saya, beda kalau menurut yang lain). 

Kenapa saya bilang rumit?, karena menulis puisi itu harus jujur, itulah yang saya yakini, sebab menulis puisi itu tidak bisa sekadar dimanis-maniskan, atau dielok-elokkan bahasanya, namun kita juga harus menggunakan pilihan kata yang baru dan segar; yang masih jarang dipakai oleh penulis-penulis lain. Karena, jika kata-kata tersebut sudah sering digunakan, kata-kata tersebut akan terasa basi, contoh: kata senja; aku, yang ditulis awal kalimat; gelap, sunyi, diterpa angin, sepi, gegara, dan lain-lain. Nah, alasan itulah yang membuat saya menyimpulkan, bahwa menulis puisi itu lebih sukar ketimbang mengarang cerpen.

Ketiga, jika kita sudah merampungkan proses kreatif , dan sudah menjadi sebuah karya, maka yang harus kita lakukan adalah, mengirimkan ke media; hal tersebut dilakukan untuk mengukur kualitas karya kita di media atau dari segi apresiasi pembacanya. Namun kita harus tahu, persaingan dalam pemuatan karya itu sangat ketat, satu banding seratus penulis dalam seminggu. Jadi kita harus benar-benar mempertimbangkannya sebelum mengirim karya tersebut. Dan kita harus mempertanggungjawabkan karya kita; bahawa semua yang kita tulis bukanlah hasil plagiat ataupun mutilasi dari cuplikan-cuplikan karya penulis lain.

Keempat, Jika kita beruntung; karya kita akan dimuat dan akan dibaca oleh khalayak. Tidak menutup kemungkinan, ada yang pro dan ada yang kontra terhadap tulisan kita, dan itu hal yang sangat biasa. Jadi, kita harus menyiapkan mental kita. Supaya kita terus berproses dan menulis, sampai media-media nusantra mengenal tulisan kita.

Kelima, jika sudah melakukan langkah-langkah yang saya utarakan di atas, saya yakin, anda pasti akan tertular penyakit saya; Insomnia stadium satra. Penyakit yang datang menjelang tidur, dan tidak akan berhenti bergentayangan sebelum kita menangkap serta menulisnya. Hingga kita merasa kecanduan dan haus membaca (untuk menambah daftar kosa kata dan informasi kita). Maka dari itu, marilah kita menulis dimulai dari yang dekat dengan kita: tubuh kita, keluarga kita, teman kita, tetangga kita, kampung kita, kota kita, negeri kita, hingga dunia kita.

 

Jombang, 5 November 2025

MTs Negeri 2 Jombang
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

As a complete Library Management System, SLiMS (Senayan Library Management System) has many features that will help libraries and librarians to do their job easily and quickly. Follow this link to show some features provided by SLiMS.

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik
Kemana ingin Anda bagikan?