
Bruuk!
Suara teriakan yang menggelegar seperti petir di langit gelap, mencoba membangunkan mama dari tidurnya yang panjang. Aku berteriak sekeras kerasnya, berharap mama bisa mendengar suaraku dan kembali ke dunia nyata. Berulang kali ku guncangkan tubuhnya, berulang kali aku memanggilnya tapi semuanya tidak ada yang berhasil.
13 September 1989 mama telah dimakamkan dibelakang rumah tempat dimana mama banyak menghabiskan waktu disana. Aku masih ditempat yang sama menunggu mama yang tak kunjung bangun dari tidurnya. Tanpa sadar kegelapan mulai menyelimuti, aku memutuskan untuk masuk rumah dan mulai membereskan tali tali panjang dan begitu besar yang melenyapkan mama. Entah apa yang dipikiran mama pada saat itu hingga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Hari Hari berlalu tidak ada yang kulakukan selain meneteskan air mata. Aku merasakan hampa, seperti tidak ada yang tersisa dalam hidupku. Kenangan kenangan indah bersama mama berkelebat di benakku. Aku teringat senyumannya, pelukannya dan kata kata penyemangatnya. Sekarang, semua itu hanya kenangan. Pikiran itu seketika buyar ketika seseorang menyebut nama"Hen". Yah itulah namaku "Stephen Hawking" Itu adalah nama seorang fisikawan teoritis yang terkenal, dibalik keberhasilannya ia tidak percaya akan adanya Tuhan sama sepertiku, seseorang hidup tanpa percaya akan adanya Tuhan. Nama itu diberikan karenah mama ingin aku seperti dia.
"Hey mau bermain Hen? " Tanya seorang anak kecil berambut pirang.
"Oh sepertinya tidak Angeli, hari ini aku akan pergi" Jawab Hen dengan lembut
"Apakah kau pergi untuk mencari gadis Hen? " Tanya Angeli cemas
"Tidak" Jawabku menepis pertanyaan aneh Angeli
"Tapi... " Angeli terlihat cemas mengetahui pria yang ia kagumi akan pergi. Aku dan Angeli memiliki banyak perbedaan meskipun begitu aku mempunyai rasa tersendiri kepada Angeli. Gadis kecil dengan rambut pirangnya yang indah dan pipi kemerahannya yang menawan memiliki senyum yang bisa menerangi hari siapapun, termasuk aku.
"Aku harus bersiap" Aku pergi meninggalkan Angeli tanpa menunggu jawabannya. Matahari pun mulai naik pada saat itu Angeli ingin bertemu Hen untuk membawakan kue jahe kesukaannya. Berulang kali Angeli mengetuk tapi jawabannya nihil. Lama Angeli menunggu Hen, berharap dapat menghabiskan waktu bersama untuk terakhir sebelum Hen pergi. Angeli hanya menemukan Niel seekor anjing kesayangan Hen, ia pun menghampiri tetapi Angeli menemukan sebuah kertas yang tidak jauh dari tempat Niel berada.
Angeli.....
Aku titipkan Niel padamu ... jaga dia seperti kau menjagaku
Aku akan datang kembali untuk menjemputmu dan Niel
Bandung, 21 September
Angeli merasakan kesedihan yang tak terkira ketika membaca surat itu. Tapi ditengah kesedihan itu Angeli juga menemukan sedikit kebahagiaan yaitu Hen yang akan kembali untuk menjemputnya.
Langkah demi langkah Hen yang tak pernah terhenti. Hari Hari ia lewati dengan terus berjalan tanpa tujuan kapan ia akan berhenti. Hen pun meneduh di bawah pohon Bodhi yang rindang, disitulah Hen menemui seseorang laki kali tua dengan wajahnya yang bulat dan tanpa memiliki rambut dikepalanya yang biasanya di panggil dengan sebutan "biksu". Hen berbincang dengan biksu itu tentang kehidupan dan spiritualitas, biksu yang ditemui Hen memberikan nasihat yang bijak dan penuh kasih yang membantu Hen menemukan jalan yang tepat untuk hidupnya.
" Jangan terikat pada hal yang bersifat sementara "ujar biksu itu
Hen masih kebingungan dengan kalimat itu. Pada saat itu lah Hen memutuskan untuk mempelajari agama Budha dengan di dampingi biksu tua yang baik hati membimbing Hen dengan sabar dan penuh kasih, membantu Hen memahami ajaran Budha.
Tiba waktunya saat Hen harus pergi ke kuil untuk beribadah. Pada saat Hen mulai memasuki kuil, Hen merasakan tidak nyaman saat berada di kuil. Meskipun is berusaha untuk mengikuti setiap ritual dengan seksama ada perasaan yang membuatnya merasa ragu dalam dirinya tentang apa yang sedang dilakukannya. Hen pun tetap berusaha untuk menyelesaikannya
Hen yang sedang merenung, biksu tua itupun menghampiri dan mencoba berbicara kepada Hen mengenai apa yang terjadi padanya.
"Sepertinya aku tidak bisa melanjutkannya" Ujar Hen dengan penuh keyakinan
Mendapati Hen mengatakan hal itu, biksu tua itu mencoba menjelaskan dan meyakinkan Hen kembali berharap Hen tetap berada pada ajaran Budha. Hen hanya terdiam saat biksu tua itu terus berbicara. Pembicaraan yang membosankan itu membuat Hen tidak sadar bahwa malam telah datang, biksu tua itu pun sudah tidak ada. Hen pun kembali di gubuk tua kecil tempat ia beristirahat. Pada malam hari dingin menyelimuti tubuh, Hen memutuskan untuk pergi meninggalkan gubuk tua itu untuk melanjutkan perjalanannya. Biksu tua itu sepertinya tidak berhasil untuk meyakinkanku. Aku bahkan tidak ingat perkataan apa saja yang ia keluarkan untuk meyakinkanku. Aku hanya kuat mempelajari dalam waktu tiga hari dan tidak ingin melanjutkannya lagi.
Hen melanjutkan perjalanan nya yang begitu jauh , yang membuatnya begitu lelah. Ia pun berhenti untuk beristirahat sejenak di sebuah pohon. Kelelahan yang Hen rasakan membuatnya tertidur pulas. Hingga keesokannya ia terbangun dengan kondisi tubuhnya penuh dengan sakit. Hen tidak terbiasa tidur tanpa alas, tapi karenah kelelahannya semalam ia tidak memikirkan hal itu. Hen merasakan perutnya mengoceh karenah belum ia kasih makan. Pandangan Hen pun tertuju kepada pohon buah mangga yang berbuah lebat dikejauhan, memberikan harapan untuknya agar bisa menghilangkan rasa laparnya. Dengan usaha Hen yang begitu keras, Hen pun mendapatkan tiga buah mangga untuknya. Karenah hal itu sudah cukup untuk hen, ia pun perjalanannya.
Ditengah perjalanan itu Hen menemukan secarik kertas yang tergeletak di tanah dengan tulisan yang belum ia ketahui "keimanan adalah cahaya hidup" Tulisan itu membuat Hen bertanya tanya, apa itu iman? Cahaya dari iman? Apa maksud tulisan itu?. Banyak sekali pertanyaan di pikiran Hen mengenai maksud dari kertas itu. Dengan rasa yang penuh penasaran Hen pun memutuskan untuk memiliki tujuan yaitu mencari apa arti dari tulisan itu.
Langkah langkah Hen membuat ia memasuki sebuah desa tua. Dimana terdapat sebuah geraja dengan arsitektur yang kuno dengan ukiran yang indah, Hen terpesona melihat keunikan gereja itu. Hen mulai memasuki gereja tersebut , ketika Hen sedang mengamati sebuah tempat yang asing untuknya, seorang penduduk desa itu muncul dari balik pilar gereja dengan memandangi dan mulai menghampiri Hen dengan wajah yang marah
"Hey kamu tidak boleh menggangu kekhusyukan orang orang yang beribadah" Katanya dengan nada marah.
Hen pun kebingungan dengan perlakuan orang tua tadi, karenah hal itu membuat banyak mata tertuju ke arah Hen. Karenah Hen yang ketakutan, ia pun berlari keluar meninggalkan gereja. Hen menangis kebingungan tidak tau apa yang barusan terjadi. Tiba tiba seorang wanita tua menghampirinya dengan membawakan kue jahe dan coklat panas.Dengan mata yang berkilau wanita tua itu menawarkan kue jahe dan coklat panas kepada Hen. Kue jahe dan coklat panas itu membawa Hen kembali ke kenangan manis bersama Angeli dan mamanya.
"Ambil, anak muda. Ini sebagai permintaan maafku atas kejadian yang tadi" Ujarnya dengan suara yang lembut.
Hen pun tertarik untuk mencicipinya. Wanita tua itu duduk disebelah Hen, matanya yang berkilau memancarkan cahaya kelembutan saat dia mulai bercerita tentang Tuhannya Yesus, seperti seorang ibu sedang bercerita kepada anak anaknya dengan penuh kasih sayang. Dengan berbagi kasih sayang dan perhatian kepada orang lain membuat kita menemukan kunci kebahagiaan yang sebenarnya. Setelah lamanya mereka berbincang, Hen berkata dengan jujur
"Saya ingin tahu lebih banyak tentang agama Kristen. Saya tidak tahu banyak tentangnya, jadi saya ingin mempelajarinya" Ujarnya dengan rasa ingin tahu. Dengan mata yang berbinar, wanita tua itu berkata" Saya senang sekali kamu ingin mempelajarinya, saya akan menjadi pendamping kamu dalam perjalanan ini dan membantu kamu memahami ajaran ajaran yang lebih indah " Katanya dengan penuh antusiasme.
Setelah tiga hari Hen mengenal ajaran ajaran Kristen, Hen datang kembali ke gereja. Dengan rasa yang penuh semangat, tetapi Hen merasakan perasaan yang sama yang terjadi pada saat Hen memasuki kuil. Rasa ragu ragu Hen memenuhi hati Hen saat ia memasuki gereja. Ia bertanya tanya apakah ia akan dapat memahami ajaran Kristen dengan baik. Apakah tindakannya ini akan membawa perubahan dalam hidupnya. Dan apakah ini jawaban dari semua perjalanannya untuk mencari keimanan.
Dengan langkah yang cepat Hen meningalkan gereja, merasa bahwa ia tidak siap untuk terlibat lebih dalam. Hen tidak ingin memperpanjang situasi yang tidak nyaman itu dan ingin kembali ke kehidupannya sehari-hari, dimana hidupnya penuh kehangatan dirumah bersama mamanya. Hen tidak pernah merasa sekacau ini. Karenah kekacauan pikirannya membuat Hen tidak fokus saat berjalan dan membuatnya terjatuh. Hen merasakan sakit dan pusing, lalu ia pingsan tanpa sadarkan diri. Ketika Hen membuka mata kembali, ia menyadari dirinya berada dirumah seorang laki laki tua yang tampaknya telah menolongnya dengan penuh perhatian. Laki-laki tua itu tersenyum lembut kepada Hen. "Alhamdulillah, kamu sudah sadar. Jangan khawatir kamu aman sekarang,saya telah membawamu kerumah saya untuk beristirahat. Ujarnya dengan suara yang hangat. Hen masih mencerna apa yang sedang terjadi. " Beristirahatlah, saya mau sholat dulu" Ujar kakek itu dengan senyuman yang manis. Hen masih terdiam terus memperhatikan kakek tua itu. Begitu takjubnya Hen melihat kakek tua itu membersihkan dirinya dengan air yang mengalir.
Karenah rumah kakek tua itu tidak memiliki pintu selain pintu keluar rumah dengan itu Hen bisa melihat jelas apa yang dilakukan kakek itu. Lantai tanah yang dipadati dengan tikar, Hen tidak melihat adanya kamar mandi, hanya melihat kran air yang digunakan kakek itu membersihkan dirinya. Hen merasa kagum dengan Kesederhanaannya.
Tidak berhenti disitu ketakutan Hen saat melihat melakukan sholat dengan penuh ke khusyukan, hati Hen tersentuh saat melihat dia kejadian itu, padahal ia sendiri tidak kenapa dirinya bisa menetaskan air mata. Hen pun mengusap air mata itu. Setelah kakek itu selesai sholat, Hen membuka pembicaraan dengan bertanya .
"Apa tujuan sholat yang kakek lakukan? " Tanya Hen dengan penasaran.
Kakek itu tidak menanggapi pertanyaan Hen bahkan tidak menoleh ke arah Hen. Selang beberapa waktu akhirnya kakek itu menoleh ke arah Hen dan mulai menghampiri Hen.
"Siapa namamu, perkenalkan agar aku lebih muda memanggilmu" Ujar kakek itu menyuruh Hen untuk memperkenalkan dirinya.
"Oh aku Stephen Hawking, panggil Hen aja" Ujar Hen memperkenalkan diri
"Panggil aku kakek Ali" Ujar kakek tua itu
"Bagaimana dengan pertanyaanku tadi? " Tanya Hen kesal karenah tidak dihiraukan.
"Ulangi lagi nak, tadi kakek sedang berdoa" Ujar kakek itu menjelaskan.
"Apa tujuan dari sholat yang kakek lakukan? " Tanya Hen dengan penuh penasaran.
"Tujuannya yaaa? Untuk mengingat Tuhanku , meningkatkan keimanan dan mencari petunjuk serta perlindungan darinya" Ujarnya dengan penuh keyakinan.
Hen terkejut mendengar kata-kata kakek Ali mengenai keimanan. Belum pernah ia mendengar penjelasan yang begitu mendalam dan penuh makna dari seseorang biksu atau biarawati yang ia temui sebelumnya, membuat Hen merasa ingin tahu lebih banyak tentang keimanan.
"Apa itu keimanan kek? " Tanya Hen dengan penasaran.
"Keimanan itu percaya dan yakin atas Tuhanmu" Kata kakek Ali dengan penuh keyakinan.
Setelah mendengar penjelasan kakek Ali, Hen merasa seperti sedang berada di tengah jalan. Kakek Ali meminta untuk melanjutkan keesokan harinya.
Pagi hari telah tiba, Hen tidak melihat kakek Ali itu dirumah kecil itu. Dengan rasa penasaran yang besar, Hen memaksakan dirinya untuk mencari kakek Ali. Meskipun kaki yang sakit membuatnya merasa kesulitan, Hen tetap melanjutkannya. Akhirnya menemukan kakek Ali yang berada dikebun belakang. Saat Hen melangkah keluar dari rumah kecil itu, Hen melihat pemandangan alam yang begitu indah dan asri. Hen merasa seperti sedang berada di dalam mimpi, ia pun menghampiri kakek Ali yang sedang duduk dibawah pohon rindang. Hen pun melanjutkan pembicaraan tentang keimanan yang telah mereka bicarakan sebelumnya.kakek Ali pun memulai pembicaraan dengan penjelasan dengan kalimat yang penuh makna. Hen merasa hatinya dipenuhi dengan perasaan yang sangat mendalam saat mendengar penjelasannya. Air mata mulai menetes dari matanya, menunjukkan betapa kuatnya pengaruh penjelasan kakek Ali itu terhadap dirinya. Ia merasa seperti sedang mengalami perubahan besar dalam hidupnya.
Panas matahari tengah hari mulai terasa. Kakek Ali berpamitan untuk melakukan sholat, ketika hendak melakukannya, Hen merasa ingin merasakan kekhusyukan, ketenangan dalam melakukan sholat. Ia meminta izin kepada kakek Ali untuk ikut sholat. Kakek Ali dengan hangat memperbolehkannya, dengan lembut kakek itu mengajari Hen satu persatu cara berwudhu. Ketika hendak akan sholat Hen kebingungan karenah ia belum tahu tentang sholat.
"Gimana ini caranya? Aku kan tudak tahu" Kata Hen dengan jujur.
"Ikuti saja aku, dan lakukan apa yang aku lakukan" Ujarnya dengan penuh kesadaran. Hen mengangguk dan melakukan sesuai dengan perintah kakek Ali. Setelah sholat, Hen hanya terdiam karenah untuk pertama kalinya ia merasakan ketenangan dalam melakukan sholat yang belum ia lakukan sebelumnya.
Setelah tiga hari Hen mengenal islam, Hen merasa hatinya telah dipenuhi dengan cahaya. Ia memutuskan untuk masuk islam tanpa ragu. Ia pun mulai membaca kalimat syahadat yang didampingi dengan kakek Ali.
Hari hari telah ia jalani bersama kakek Ali yang telah membawa Hen ke jalan yang benar. Dengan hati yang penuh rasa syukur, Hen memutuskan untuk kembali ke rumahnya dan memberikan kabar kepada Angeli. Seseorang yang telah menjadi bagian penting dalam hidupnya, Hen ingin membagikan kebahagiaan dan perubahan besar yang telah terjadi dalam hidupnya kepada Angeli. Hen berharap Angeli akan merasakan kedamaian dan kebahagiaan yang sama seperti yang ia rasakan setelah mengenal islam.
Perjalanan panjang menanti Hen saat ia keluar dari rumah kecil itu dan memulai perjalanan untuk kembali ke rumahnya.
Langkah demi langkah, Hen perjuangkan keringat yang membasahi tubuhnya, tenaga yang banyak terkuras saat melakukan perjalanan yang panjang. Namun, semangat dan tekadnya untuk bertemu Angeli sangatlah besar. Hingga akhirnya Hen pun sampai dirumah tua Belanda yang biasanya ramai dengan suara Angeli. Namun, saat itu kondisi rumahnya sangat sepi, tidak ada suara gadis kecil yang berisik. Hen berulang kali memanggil nama Angeli tapi tidak ada jawaban.
Tak lama kemudian dengan langkah yang perlahan wanita tua, nyonya Rosa tetangga yang sudah dikenalnya sejak lama. Menghampiri Hen dengan wajahnya penuh dengan rasa iba. Dengan suara yang lembut, nyonya Rosa memberi tahu Hen bahwa Angeli telah meninggal dunia setahun yang lalu. Hen merasakan dunianya padam saat mendengar kabar itu. Mengetahui Hen yang seperti sudah kehilangan arah, nyonya Rosa mencoba menenangkan dan menguatkannya. Hen yang masih belum percaya dengan kabar yang nyonya Rosa sampaikan.
Nyonya Rosa menatap Hen dengan mata yang berkaca kaca.
"Gadis kecil itu memiliki semangat hidup yang luar biasa, tapi penyakit yang menggerogoti tubuhnya membuatnya semakin lemah. Sama seperti mama mu Hen, Angeli harus berjuang melawan cacing pita yang tak henti hentinya menyakiti Angeli" Ujar nyonya Rosa dengan rasa penuh iba.
Hen merasa seperti terkena sambaran petir. Mamanya, sosok seseorang yang penuh akan tawa dan candaannya, ternyata memiliki penyakit yang begitu mengerikan.
"Mengapa saya tidak pernah tahu? " Ujar Hen dengan suara yang keras penuh penasaran.
Dengan suara yang lembut, nyonya Rosa menjelaskan bahwa semua ini keputusan dari mamanya sendiri.
"Mamamu tak ingin kamu terbebani dengan kondisi tentang ini. Dan akhirnya mamamu memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri" Ujar nyonya Rosa dengan penuh kesedihan.
Dengan badan yang bergetar, Hen merasakan kesedihan yang begitu menyakitkan. Mamanya dan Angeli orang yang paling ia cintai telah pergi meninggalkan nya. Hen kehilangan semua arah, tidak tahu bagaimana ia melanjutkan hidupnya. Nyonya Rosa memeluk Hen dan mencoba menenangkannya, lalu pergi meninggalkan Hen.
Satu bulan sudah berlalu sejak Hen pergi, tetapi ia tidak kunjung kembali. Kakek Ali merasa khawatir dan penasaran tentang apa yang terjadi padanya. Hen berjanji kepada kakek Ali akan kembali dengan membawa Angeli, gadis yang ia cintai. Dengan rasa yang khawatir kakek Ali memutuskan untuk mencari Hen, takut akan hal terjadi sesuatu pada Hen. Kakek Ali menulusuri jalan jalan yang pernah mereka lalui, dan menemukan Hen yang berada di bawah pohon rindang dekat dengan aliran sungai. Dengan langkah demi langkah, kakek Ali mendekati Hen yang duduk dibawah pohon. Ia melihat kesedihan dimata Hen, ada sesuatu yang tidak beres dengan kondisi Hen saat itu. Kakek Ali melihat Hen dengan rasa penuh khawatir.
"Sudah sholat Hen? " Tanya kakek Ali dengan suara yang lembut.
Tetesan air mata Hen seperti hujan yang tak pernah berhenti.
"Buat apa aku sholat? Hanya sia sia saja. Tuhan mengambil segalanya dariku, tidak peduli kepada ku, hanya suka melihat ku menderita. Ujarnya dengan rasa kecewa.
" Hen sadarlah, kuatkan imanmu" Kata kakek Ali penuh kasih sayang, seperti cahaya yang menyinari hidup Hen.
Hen menatap ke arah kakek dan untuk pertama kalinya, ia melihat ke dalam dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa ia telah kehilangan arah dan tujuan hidupnya. Hen berlari kearah sungai, seperti ingin melarikan diri dari kesedihan yang menghantuinya. Ia melihat dirinya sendiri di permukaan air, merasa penuh dengan kekecewaan. Namun, saat itu juga ia merasa mendapatkan panggilan untuk membersihkan diri dan mulai berwudhu. Seperti ingin menemukan kekuatan baru dalam hidupnya. Ia mulai melakukan sholat, ketika berdoa ia memohon ampun karenah telah menjauhi tuhanya.
Dibawah naungan pohon yang rindang dengan pemandangan udara yang sejuk dan tenang, Hen mulai bercerita tentang apa yang terjadi kepada kakek Ali.
"Aku menceritakan tentang penyesalan yang menghantui tak kunjung pergi.
" Kenapa aku baru mengenal islam sekarang? Mungkin jika aku lebih dekat dengan agama ini sejak awal, mama dan Angeli masih disampingku hari ini" Batinku dengan penuh kesedihan.
Dirumah kecil itu, aku menemukan kedamaian dan kekuatan untuk melanjutkan hidup seperti cahaya yang terus bersinar. Kini aku yang mengurus rumah kecil itu sendiri, sementara kakek Ali telah berpulang duluan. Meningalkan kenangan yang akan selalu menjadi inspirasi bagi hidupku.
Aku tumbuh dalam keluarga yang tidak religius, pada saat itulah aku merasakan ada sesuatu yang kurang dalam hidupku. Aku melakukan banyak perjalanan jauh untuk menemukan tujuan hidup, banyak cara yang aku lakukan tapi aku ragu untuk melakukannya. Hingga akhirnya aku bertemu dengan seseorang yang membagikan cerita tentang keimanannya. Membantu aku untuk menemukan segala jawaban yang selama ini aku cari. Aku terinspirasi banyak dari nya. Aku mulai mendalami nya,membaca Alquran dan berdoa. Aku merasa keimanan adalah fondasi yang menerangi kehidupan. Saat aku menghadapi kesulitan iman itu yang menjadi penerang jalanku. Aku merasa aku tidak sendiri bahwa ada kekuatan yang lebih besar yang menyertai diriku. Iman memberikan cahaya dalam hidupku.
Aku bersyukur atas karunia itu.